Kebudayaan Borobudur Pusaka Budaya Indonesia
Selamat datang di Borobudur, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan candi Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari situs warisan budaya dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan yang menarik ini akan menyampaikan penjelasan Borobudur sebagai apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali untuk pariwisata menjadi kesempatan yang menarik untuk mempelajari narasi ini dalam wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dan ikut serta dalam mengenal, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur, yang ada di Indonesia.
Mahakarya Seni Rupa adalah Kebudayaan Candi Borobudur
Candi Borobudur sebagai bangunan yang berlatar belakang agama Buddha mempunyai banyak keindahan, keunikan dan serta kecantikan seni rupa yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan keindahan dan keunikan bentuk monumen ini dengan gaya arsitektur seni rupa piramida berundak yang banyak disebut sebagai bangunan punden berundak nenek moyang Indonesia, arsitektur bentuk stupa dan dipadu dengan seni ukir pahatan relif di dinding bangunan suci candi.
Bangunan candi Borobudur dengan keunikan bentuk arsitektur yang terdiri atas enam teras bujur sangkar dan pada bagian atas terdapat tiga pelataran dengan bentuk lingkaran, pada bagian puncak terdapat stupa besar sedangkan pada dindingnya dihiasi dengan pahatan ukiran batu yang indah dengan jumlah 2.672 panil relief. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha, cerita Sidharta Gautama sebanyak 120 panil relif yang terlengkap dan bangunan ini mempunyai 504 arca Buddha.
| Chandi Borobudur Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha berbentuk stupa dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha berbentuk stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari Wangsa Syailendra.
Lingkungan Tiga Candi
Beberapa bangunan suci Buddha yang sebagian besar terletak di dataran Kedu, didirikan di sekitar dan tidak jauh dari Borobudur. Tempat-tempat suci keagamaan Hindu dan Buddha, bisa dikatakan, dikemas bersama berjarak dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan antara dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, bangunan suci Buddha yang utama di daerah ini adalah Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawen yang terdiri dari lima bangunan.
Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga, meskipun dibangun pada jarak yang cukup jauh antara satu dengan lainnya, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan perlambang tiga serangkai. Tata letak seperti ini, bagaimanapun tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beralas batu, yang diapit oleh pagar langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa dari jalan berbatu. Komposisi tiga serangkai yang luar biasa ini, telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang didalamnya, tidak ada tempat yang digunakan untuk beribadah. Hal ini kemungkinan besar adalah tempat untuk ziarah, dimana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong yang berada disekitar bangunan, dan berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk berkeliling dan melakukan ritual. Dipandu oleh deretan relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras menuju ke teras lain dalam kontemplasi hening. Sedangkan Chandi Mendut, di sisi yang lain, sepertinya menjadi tempat untuk pemujaan karena mempunyai ruang dalam.
Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Asumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanannya dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beralas batu yang mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam tempat persinggahan atau stasiun dalam perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib dan utama di Chandi Mendut, Chandi Pawon adalah merupakan tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Ilustrasi danau Borobudur (genangan air) Arsitektur Borobudur menyerupai seni bentuk bunga teratai dan postur Buddha yang melambangkan Sutra Teratai didalam naskah keagamaan Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Danau Borobudur
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.
Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
![]() |
Ilustrasi danau Borobudur Arsitektur Chandi Borobudur menyerupai bunga teratai. Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai.
Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti-bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Suatu penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Langkah Menuju Sejarah
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, chandi Borobudur ditinggalkan pada abat ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh SirThomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa.
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan candi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
Tentang Chandi Borobudur
Keberadaan candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya memakan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M, antara tahun 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya.
Dokumen tertulis bagaimana tentang awal mula pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan di atas relief pada 'kaki tersembunyi' monumen chandi Borobudur memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
| Sansekerta Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Perbandingan antara jenis tulisan atau aksara yang tertulis di kaki candi pada relif Karmawibhangga dengan jenis tulisan aksara yang ada pada beberapa prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9.
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan adalah Zaman Keemasan dinasti Syailendra. Hal ini menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.
Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.
Prasasti Sojomerto Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto Screenshot arisguide. |
Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja - raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Buddha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu. Oleh karena itu dapat dijelaskankan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu.
Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.
Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan wangsa Sanyaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.
Peran yang dimainkan oleh orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur budaya India, tetapi juga melibatkan kebudayaan aslinya. Asumsi kontak terus menerus, atau setidaknya teratur, akan membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian negara. Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan dekrit, hanya dapat dianggap mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya. Kenyataannya, dekrit - dekrit itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi.
Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki dekrit kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen, Prasasti Dinoyo tahun 760 M. Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh. Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai periode Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi istilah yang diterima dalam berurusan dengan monumen dan patung dalam sastra.
Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa "Bhumi Sambhara Budhalra" dan "Kamulan" adalah bangunan candi Borobudur yang dibangun antara kurun waktu tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur membutuhkan waktu 75 - 100 tahun yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, hal ini dijeaskan melalui temuan prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja yang beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 Masehi. Pembangunan candi Buddha, termasuk Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Chandi Borobudur digunakan, atau kapan berhenti berfungsi sebagai monumen untuk memuliakan kebesaran dinasti kerajaan yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Buddha.
Asumsi umum adalah bahwa chandi Borobudur tidak digunakan lagi pada saat masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Tetapi hal ini sangatah masuk akal bahwa monumen-monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah bergeser ke Jawa Timur. Jika demikian, Chandi Borobudur dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari Monumen Jawa Timur. Terlepas dari waktu yang tepat di mana chandi kehilangan signifikansinya dalam masyarakat yang berubah, mereka harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang mereka mulai terakumulasi. Tapi mereka tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan orang-orang. Dalam beberapa hal, masa lalu yang gemilang dan monumen-monumen yang menyaksikannya dikenang, dan terutama oleh penduduk desa yang tinggal di dekatnya. Chandi masih berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan kepercayaan tentu saja menyebabkan perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap monumen, terbukti dari cara orang mengabaikannya. Namun, ketidakpedulian bukanlah penjelasan utama.
Sebuah kepercayaan takhayul secara bertahap menghubungkan reruntuhan yang tidak jelas dengan nasib buruk dan kesengsaraan. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa), menjelaskan bahwa Bukit Borobudur mempunyai keyakinan tentang kemalangan bagi yang mengunjungi pada tahun 1709 M. Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) menceritakan nasib buruk pada tahun 1757. Terlepas dari pembatasan yang berlaku untuk mengunjungi arca didalam stupa berlubang di Chandi Borobudur. Baru pada tahun 1814 Chandi Borobudur muncul, secara nyata dan kiasan, dari masa lalunya yang kelam.
Antara 1811 dan 1816 Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris. Wakil Pemerintah Inggris adalah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan masa lalu Jawa. Pada tahun 1814, dalam sebuah perjalanan inspeksi di Semarang, ia diberitahu tentang keberadaan sebuah monumen besar, yang disebut Chandi Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Dia tidak bisa datang dan mengirim Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang mempumyai keahlian berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki.
Cornelius mempekerjakan sekitar 200 orang untuk membersihkan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah di mana lokasi monumen itu dibangun yang sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak beberapa bagian dinding galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Administrator Belanda di wilayah Kedu, Hartmann tertentu, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan seorang Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Chandi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
Asal Mula Nama Borobudur
Monumen-monumen yang berasal dari periode kuno sejarah Indonesia biasanya disebut chandi, terlepas dari apa tujuan awalnya. Monumen tersebut tidak hanya mencakup bangunan candi, tetapi juga hal-hal seperti gerbang dan tempat mandi.
Dalam penjelasan kebanyakan chandi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika chandis hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Chandi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan sebuah monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen.
Nama kata 'Boro-Budur' sulit untuk dijelaskan. Menganggapnya artinya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut, kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung.
Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili Kata Lama Kata Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Banyak Buddha memiliki klaim yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh almarhum Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan berarti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah terjadi. , ia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak bisa lain dari Borobudur itu, dan bahwa perubahan nama yang sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).
Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
![]() |
Candi Borobudur, pemandangan alami dari Bukit Dagi sebelah barat laut di pagi hari dengan latar belakang perbukitan menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
nama Borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa sansekerta berarti “candi”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ), kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga kurang lebih sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan para leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli dari Borobudur.
Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut - Stupa dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad abad bangunan suci ini sempat terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dulu kawasan di sekeliling Borobudur adalah danau purba.
Pemugaran
Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini telah mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini.
Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum. Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.
![]() |
Chhatra Pinnacle stupa induk. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama di habiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu.Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak. Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki, sehingga ia mengajukan proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur.
Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur, chattra susun tiga pada awalnya disimpan dalam Museum Karmawibhangga, setelah direstorasi sekarang disimpan di Balai Konservasi Borobudur.
![]() |
Chandi Borobudur setelah restorasi Van Erp's 1911. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.
Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada dunia internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi monumen ini.
Proyek Pemugaran pada tahun 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.
Pondasi diperkukuh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan.
![]() |
Penanaman beton dan pipa PVC, system drainase pada pemugaran tahun 1973. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.
Situs Warisan Dunia
![]() |
Situs Warisan Dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tipe Budaya, Kriteria i, ii, vi, Nomor identifikasi 592, Kawasan UNESCO Asia Pasifik, Tahun pengukuhan 1991 (sesi ke15).
Kriteria Chandi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia:
(i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius",
(ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan
(vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".
![]() |
Chandi Borobudur Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Arsitektur Borobudur
Menurut legenda arsitek perancang candi Borobudur bernama Gunadharma, diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa.
Legenda Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
Chandi Borobudur adalah merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
Menurut para arkeolog perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur yang disebut tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Satuan ukur ini bersifat relatif dan mempunyai sedikit perbedaan antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada Borobudur.
Dalam penelitian pada tahun 1977, menjelaskan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di Borobudur. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan Borobudur. Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog percaya bahwa konsep bangunan candi Borobudur dirancang memiliki fungsi dan tujuan, fungsi dan makna dalam penanggalan, astronomi, yang terkait dengan kosmologi Buddha. Konsep ini sama dengan konsep pembangunan candi Angkor Wat di Kamboja.
![]() |
Deretan stupa teras Arupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Desain Struktural
Chandi Borobudur dibangun di atas bukit alami yang panjang, punggungannya diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi. Bagian utama dari dataran tinggi membentuk situs monumen. Tembok-tembok di puncak bukit ini yang tadinya masih utuh. Dataran di taji barat laut bukit menyediakan tempat untuk biara.
Dataran tinggi sekitar 15 m lebih tinggi dari dataran sekitarnya, dan puncak bukit naik sekitar 19 m di atas dataran tinggi. Di sekitar dan di atas puncak bukit itulah monumen itu dibangun. Akan tetapi, diperlukan penimbunan yang cukup banyak, karena puncak bukit tidak cukup untuk dijadikan sebagai inti struktur.
Chandi Borobudur benar-benar berbeda dari desain umum struktur seperti itu. Itu bukanlah sebuah bangunan yang didirikan di atas dasar datar dan mendatar, yang menyisakan ruang dalam untuk pentahbisan sebuah patung, melainkan sebuah piramida berundak, yang terdiri dari sembilan teras bertumpuk, dan dimahkotai oleh sebuah stupa besar berbentuk lonceng.
Namun, teknik membangunnya sama dengan yang digunakan dalam konstruksi bangunan candi di batu. Bahan bangunan tidak dikumpulkan dari tambang, tetapi diambil dari sungai tetangga. Batu-batu itu dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan diletakkan tanpa mortar. Batu-batu itu dibuat untuk digenggam dengan cara pas di sambungan horizontal, dan tanda di sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu sisi batu yang cocok dengan lubang yang sesuai di sisi berikutnya juga sangat sering.
Pengaturan ini memungkinkan fleksibilitas tertentu, sehingga monumen dapat berdiri dengan gerakan ringan tanpa mengalami bahaya keruntuhan langsung. Ketika bangunan selesai, ukiran dan hiasan lainnya ditambahkan. Biasanya mereka mulai dari atas, tetapi bisa juga ditambahkan secara bersamaan di beberapa bagian.
Desain strukturalnya rumit tetapi pembagian vertikal utama menjadi tiga bagian (alas, badan, dan atas) terlihat jelas. Dasarnya membentuk bujur sangkar dengan tonjolan. Persegi itu sendiri berukuran 113 m x 113 m, dimensi keseluruhannya adalah 123 m x 123 m. Dinding dasar setinggi 4 m ditopang oleh pijakan, menyerupai alas besar - tinggi 1,5 m dan lebar 3 m. Tubuh atau bagian tengah monumen terdiri dari lima teras, yang ukurannya berkurang seiring dengan tingginya. Seolah-olah untuk menekankan perubahan dari satu bagian ke bagian lain, yang pertama dari teras ini berdiri kembali sekitar 7 m dari sisi dasar, menciptakan platform yang luas tepat di sekeliling monumen. Teras lainnya mundur hanya 2 m di setiap tahap, dan langkan di sisi luar mengubah galeri sempit menjadi koridor.
Superstruktur sekali lagi sangat jelas dibedakan dari teras. Ini terdiri dari tiga platform melingkar masuk kembali, yang masing-masing mendukung deretan stupa berlubang. Melewati deretan stupa, yang disusun dalam lingkaran konsentris, kubah pusat di atas seluruh monumen menjulang ke langit hingga ketinggian hampir 35 m di atas permukaan tanah. Akses ke bagian atas monumen disediakan oleh tangga di 15 tengah setiap sisi piramida. Melalui serangkaian gerbang (yang sebagian besar telah hilang di setiap tingkat), sebuah tangga mengarah langsung ke platform melingkar, pada saat yang sama memotong koridor teras persegi.
Pintu masuk utama berada di sisi timur. Tangga juga ditemukan di lereng bukit, menanjak dari dataran rendah ke dataran tinggi, dan menghubungkan dengan tangga monumen melalui jalan beraspal. Pintu masuk dijaga oleh arca singa yang terbuat dari batu, singa lain berada di berbagai tingkat undakan disetiap teras dengan jumlah total 32 patung singa.
![]() |
Struktur bangunan dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Pembangun Chandi Borobudur menyadari perlunya sistem drainase karena hujan lebat. Spouts disediakan di sudut-sudut panggung pemasangan untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Semua 100 cerat diukir dengan indah dalam bentuk makaras (gargoyle). Karena Borobudur sangat berbeda dari semua candi lain di Indonesia, sering dikatakan bahwa itu adalah stupa dan bukan candi sama sekali. Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan untuk relik Sang Buddha. Belakangan, sangat mungkin bahwa sisa-sisa tubuh orang suci Buddhis terkemuka diabadikan dalam stupa-stupa tersebut. Kadang-kadang sebuah stupa didirikan hanya sebagai simbol dari keyakinan Buddhis.
Candi terutama dimaksudkan untuk menampung dewa, tetapi relik sangat penting untuk berfungsinya. Bagian-bagian tertentu dari chandi disisihkan untuk kotak relik. Namun relik tersebut bukanlah sisa-sisa tubuh, tetapi logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang benar-benar dimaksudkan sebagai kenang-kenangan dewa, secara simbolis mewakili kekuatan ilahi (lihat halaman berikutnya). Tidak ada relik semacam itu dan belum ditemukan di candi Borobudur, peninggalan orang suci, atau kenang-kenangan dari dewa. Tidak mungkin sisa-sisa jasad diabadikan di monumen itu. Untuk tujuan tersebut, jenis stupa lain akan didirikan dan, memang, stupa kecil digali pada awal abad ini.
Stupa besar tidak hanya menjadi mahkota tetapi monumen itu sendiri, sembilan teras kemudian hanya menjadi dasar bertingkat yang menopangnya. Sangat mungkin sebuah stupa didirikan di atas banyak alas, tetapi tidak sedemikian rupa sehingga seluruhnya dikerdilkan dalam ukuran dan kepentingan oleh dasar itu. Ini sama sekali tidak dapat didamaikan dengan rasa keindahan tertinggi dan kualitas pekerjaan yang terlihat di setiap detail Chandi Borobudur.
Bagaimanapun, konstruksi yang melibatkan tidak kurang dari 55.000 meter kubik batu tidak akan pernah dimulai tanpa terlebih dahulu memiliki desain yang terencana dengan baik. Dengan demikian, kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur adalah candi dan bukan stupa, meskipun berbeda dari candi lain di Indonesia. Pembagian vertikal Chandi Borobudur menjadi dasar, badan dan bangunan atas, membuat stupa besar hanya bagian atas monumen, sangat sesuai dengan gagasan chandi sebagai representasi gunung kosmik.
![]() |
| Stupa teras Arupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Stupa utama terbesar, teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Tiga bagian yang ditumpangkan mewakili tiga Lingkup Alam Semesta, yaitu: bhurloka atau Alam Fana, bhuvarloka atau Alam Yang Disucikan, dan svarloka atau Alam Dewa. Chandi juga memiliki simbol internal dari tiga alam. Di tengah alasnya terdapat sebuah lubang, di bawahnya ditempatkan sebuah kotak penyimpanan ritual. Kotak itu berisi pripih yang terdiri dari beberapa keping logam, batu mulia dan berbagai biji-bijian, melambangkan unsur-unsur duniawi. Di atas lubang, di ruang kuil, gambar Tuhan ditahtakan. Di bagian atas dari batu padat, ruang kecil disediakan untuk pripih lain yang mewakili unsur-unsur keagamaan.
Selama upacara ritual, dewa turun dari tempat tinggal sementaranya di ruang kecil di atas chandi ke ruang kuil, dan mengilhami patung itu dengan rohnya. Pada saat yang sama unsur-unsur duniawi dari lubang di dasar chandi memberi patung itu tubuh sementara. Lengkap dengan tubuh dan jiwa, patung itu menjadi hidup. Itu bukan lagi benda mati, tetapi Tuhan yang hidup, yang dapat menerima penghormatan dan berkomunikasi dengan pendeta yang memimpin.
Karena Candi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, candi tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi. Oleh karena itu dapat dianggap sebagai tempat ziarah daripada tempat ibadah, sistem tangga dan koridor membimbing peziarah secara bertahap ke platform paling atas melalui perambulation sepanjang teras berturut-turut. Buddhisme memberikan tekanan khusus pada tahap persiapan mental yang harus dilalui sebelum mencapai tujuan. tujuan akhir, yaitu pembebasan definitif dari semua ikatan duniawi dan pengecualian mutlak dari kelahiran kembali.
Tiga alam Semesta akibatnya ditunjuk dalam istilah yang sama. Lingkup terendah adalah kamadhatu atau Alam Keinginan. Pada tahap ini manusia terikat pada keinginannya. Alam yang lebih tinggi adalah rupadhatu atau Alam Bentuk, di mana manusia telah meninggalkan keinginannya tetapi masih terikat pada nama dan bentuk. Lingkup tertinggi adalah arupadhatu atau Alam Tanpa Bentuk. Dalam lingkup ini tidak ada lagi nama atau bentuk. Manusia sekali dan selamanya dibebaskan dari semua ikatan dengan dunia fenomenal.
Di Chandi Borobudur, Kamadhatu diwakili oleh alas, Rupadhatu oleh lima teras persegi, dan Arupadhatu diwakili oleh tiga platform melingkar ditambah stupa besar. Rupadhatu dibedakan dari Arupadhatu tidak hanya oleh fitur arsitektur, tetapi juga oleh banyaknya dekorasi teras persegi yang kontras dengan dataran platform melingkar.
Akan tetapi, alasnya tidak memberikan bukti yang langsung terlihat mewakili Kamadhatu. Hal ini karena itu bukan penyangga asli dari monumen tersebut, akan tetapi terdapat bungkusan yang menyembunyikan bagian dasar yang sebenarnya, dan serangkaian 160 reliefnya, dari pandangan pengunjung. Bagian dasar ini lebih populer disebut dengan 'kaki tersembunyi', ditemukan pada tahun 1885.
Penemuan itu mengungkapkan, tidak hanya relief, tetapi prasasti pendek yang terukir di banyak panel. Prasasti itu tampaknya adalah instruksi atau isyarat bagi para pematung, yang menunjukkan pemandangan yang akan diukir. Mereka diakui sebagai kata kunci dari naskah suci Buddha 'Mahakarmavibhangga'. Teks ini lebih membahas tentang hukum karma, yaitu hukum sebab akibat, reinkarnasi, di surga dan di neraka.
Relief-relief tersebut menggambarkan moralitas di bumi, menunjukkan bagaimana setiap pikiran, tindakan dan perasaan menghasilkan suatu keadaan bahagia atau keburukan yang mengerikan. Hukum sebab dan akibat pada dasarnya didasarkan pada dominasi keinginan. Oleh karena itu sebutan kamadhatu tidak diragukan lagi benar untuk alas dan 'kaki tersembunyi' Chandi Borobudur.
Pertanyaan tentu saja mengapa 'kaki' itu terkubur, menyembunyikan semangat dan dedikasi para seniman setia. Penggunaan 12.750 meter kubik batu untuk membuat bungkus, dan pengorbanan elemen arsitektur dan relief tampaknya sangat menunjukkan bahwa kesehatan monumen sangat dipertaruhkan. Karena sebagian besar fondasi piramid berundak yang secara bertahap dipasang harus bertumpu pada tanah yang terisi, beberapa kemungkinan terjadi geser, dan menjadi perlu untuk membuat dinding di dasarnya.
Dengan kata lain, dinding selubung adalah tanggul penahan yang dilemparkan ke sekeliling untuk mencegah longsor lebih lanjut dan untuk menghindari bencana yang lebih buruk. Solusi teknis dari sebuah bungkus memiliki kompensasi estetika dan agama tertentu. Platform luas yang disediakan oleh dinding tambahan menghaluskan garis luar. Pada saat yang sama memberikan ruang yang cukup dan memungkinkan peziarah untuk melakukan putaran awal di waktu luang dan merenungkan lagi sebelum memasuki Jalan sempit Buddhisme. Karena, berbeda dengan keterbukaan kehidupan duniawi di kamadhatu, jalan menuju keselamatan tertinggi membutuhkan penyempitan penglihatan tubuh dan konsentrasi pikiran, dan galeri sempit rupadhatu membantu mereka yang setia untuk mencapai ini dengan cara yang paling tepat.
Rupadhatu pada pandangan pertama membingungkan. Dindingnya penuh dengan relief, begitu pula langkan. Tidak kurang dari 1.300 panel relief naratif, dengan panjang total 2.500 m, dan selanjutnya 1212 relief dekoratif, mengapit koridor. Di atas relief di dinding, dekorasi berukir terus menerus membentang lebih dari 1500 m, dan cornice di atasnya dihiasi oleh 1416 antefix.
Bagian atas dinding (sesuai dengan fasad luar pagar langkan) terdiri dari relung yang diselingi dengan relief dekoratif. Ada 432 relung di sekitar lima teras, masing-masing berisi patung Buddha duduk. Di atas relung, stupa-stupa padat kecil membumbung ke langit. Dan karena dinding di belakang relung merupakan fasad bagian dalam langkan, deretan 1472 stupa pada gilirannya membentuk kaki langit langkan yang agak kasar. Kelimpahan bentuk yang membingungkan di rupadhatu memiliki pasangannya dalam relief naratif.
Biografi Sang Buddha, dari turunnya dari surga sampai pencerahannya, digambarkan di dinding utama galeri pertama. Kisah Sudhana dalam mencari Kebijaksanaan Tertinggi dan Kebenaran Tertinggi diceritakan dalam relief yang menutupi dinding galeri kedua, ketiga dan keempat. Kegigihan tokoh utama Rupadhatu dan upaya tak kenal lelah mereka untuk mencapai tujuan akhir, meskipun mereka terlibat dengan kekayaan dan keindahan bentuk yang luar biasa, memberikan model bagi peziarah saat ia berkeliling melalui tahap-tahap yang berurutan teras persegi Rupadhatu.
Platform melingkar yang mewakili Alam Tanpa Bentuk adalah polos: tidak ada ukiran, tidak ada ornamen, tidak ada hiasan. Satu-satunya jeda dalam kepolosan yang monoton itu ditawarkan oleh deretan stupa yang mengelilingi kubah pusat yang besar. Didukung oleh bantalan teratai, stupa disusun dalam tiga lingkaran konsentris, sesuai dengan tiga platform melingkar. Semuanya ada 72 stupa: 32 di tingkat terendah atau pertama, 24 di tingkat kedua dan 16 di tingkat ketiga. Masing-masing dari 72 stupa memiliki semacam permukaan.
Stuktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu) menurut Stutterheim.
Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut de casparis.
Sebagai mandala, yang nyata dan yang ideal menurut Marsis sutopo, kearitekturan candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
Borobudur Mandala Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Arkeolog yakin bahwa konsep pembangunan candi Borobudur dirancang memiliki fungsi dan tujuan, fungsi dan makna dalam penanggalan, astronomi, yang berhubungan dengan kosmologi Budha. Konsep ini sama dengan yang ada di candi Angkor Wat di Kamboja.
Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasar dalam konsep pembangunanya berukuran 121.66 m × 121.38 m dengan tinggi 4 meter. Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 meter dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 meter, menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris.
Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter. Tangga terletak pada bagian tengah pada keempat sisi arah mata angin yang digunakan untuk menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.
Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter. Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.
![]() |
| Gapura Kala Makara. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara Lorong koridor dengan galeri dinding berukir relief Sebuah arca Buddha di dalam stupa. Arca singa penjaga gerbang.
Digambarkan sebagai Dasabodhisatwa Bhumi adalah Sepuluh pelataran Borobudur yang menggambarkan filsafat mazhab Mahayana secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 meter (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.
Rancang Bangun
Para ahli arkeologi menduga bahwa konsep rancang bangun awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi. Arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.
Arkeolog memperkirakan konsep dalam perancangan dan tahapan pembangunan Borobudur meliputi:
1. Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui secara pasti, dan kurang lebih diperkirakan sekitar kurun waktu antara tahun 750 dan 850 Masehi.
Tahap pertama Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Diilhami gagasan dharma dari India: stupa dan mandala, dipercaya merupakan kelanjutan unsur lokal; struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dalam periode prasejarah Indonesia. Perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha. Borobudur adalah sebuah stupa yang dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola yang tersusun atas bujur sangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana – Mahayana.
2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
Tahap kedua Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
3. Tahap ketiga
Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran.
Tahap ketiga Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Perlu diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk.
Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.
4. Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.
| Tahap keempat Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur. Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 diantaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief. Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran monumen. Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota. Alasan penambahan dan pembuatan kaki tambahan, dilakukan secara teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kaki candi Kamadhatu Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kamadhatu
Bagian kaki melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara dibuka sehingga dapat dilihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.
![]() |
| Dinding lorong relif Rupadhatu. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar.
Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan. Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
![]() |
| Teras - teras stupa Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran.
Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang lubang seperti dalam kurungan.
Struktur bangunan tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi buddha'. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu.
Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara. Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.
Borobudur yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha.
Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia. Borobudur pada awalnya berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Arsitektur Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Budha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

















Comments
Post a Comment