Mempelajari Dinding Borobudur, Relief Jataka dan Awadana


Candi Borobudur merupakan cagar budaya yang memiliki makna sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dan memikat setiap mata dengan kemegahan dan keindahan arsitekturnya. Mengunjungi Candi Borobudur, salah satu bangunan suci agama Budha sebagai situs warisan budaya dunia, merupakan suatu hal yang sangat istimewa. Keberadaan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah telah menetapkan Candi Borobudur dan sekitarnya sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Candi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa bagi pengunjung untuk menjelajahi berbagai sumber narasi, dengan tujuan dalam mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini. Selain sebagai tujuan wisata, bangunan yang megah ini juga berfungsi sebagai tempat keagamaan bagi para umat Budha untuk melakukan upacara peribadatan dan pemujaan.

Borobudur merupakan situs bersejarah dengan segudang makna simbolis yang unik dan menarik. Bangunan ini menyimpan makna yang mendalam, dengan sejarah dan kisah yang panjang, sebagai bagian dari warisan budaya leluhur. Menelusuri kembali Borobudur merupakan langkah yang tepat untuk memahami dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya ini.

Candi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana, dengan kemegahan dan keunikan arsitekturnya, serta keindahan seni rupa yang ditampilkan oleh bangunan ini, terpampang pada dinding dan pagar langkannya yang sangat indah dan bernilai seni tinggi. Ukiran-ukiran yang terpahat pada dinding Borobudur, dipahat dengan sangat indah dan anggun. Salah satu relief cerita yang sangat bermakna berkaitan dengan penggambaran moral dalam ajaran Budha adalah kisah kehidupan yang diambil dari naskah Jataka dan Awadana. Kisah-kisah tersebut menceritakan tentang perbuatan baik dan memiliki nilai-nilai moral yang tinggi.

Dinding Relief Cerita
Keindahan seni ukir salah satu cerita relif dinding Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sekilas Relief Borobudur

Candi Borobudur memiliki seni rupa ukiran yang indah dan elok, dihiasi oleh 2.672 panel relief berupa naratif dan dekoratif yang terpahat di dinding lorong dan pagar langkan, serta terdapat relif cerita Budha yang paling lengkap.

Relief cerita pada bagian dasar dinding Borobudur memiliki cerita tentang Karmawibhangga, yaitu naskah yang menggambarkan tentang kehidupan, perilaku, dan lingkungan manusia. Sedangkan relief - relief Jataka yang berada di tingkat bagian atas bangunan ini mengisahkan tentang kehidupan Budha sebelum dilahirkan di dunia, dan tentang kelahiran kembali dalam berbagai macam kehidupan serta berperan sebagai bentuk satwa yang berperilaku seperti manusia. Kemudian terdapat sebanyak 120 panel relief pada dinding galeri pertama bangunan ini menceritakan kisah yang diambil dari teks Lalitavistara, yaitu penggambaran tentang kehidupan Pangeran Siddharta yang dimulai sejak kelahiran hingga mencapai pencerahan menjadi Budha.

Panel relief naratifnya terdiri atas sejumlah huruf-huruf Jawa kuno yang mendeskripsikan maksud dari kisah Budha tersebut. Untuk relief dekoratif Candi Borobudur merupakan pahatan jenis seni rupa murni yang memang khusus dinikmati keindahannya. Relief naratif Candi Borobudur terdiri atas Karmawibhangga, Jatakamala, Lalitavistara, Awadana, Gandawyuha dan Bhadracari. Sisa relief lainnya termasuk panel dekorasi.

Relief Candi Borobudur adalah rangkaian panel cerita dan hiasan yang dipahat pada dinding candi, menggambarkan ajaran agama Budha dan kehidupan sehari-hari pada masa itu. Terdapat dua jenis relief: naratif yang menceritakan kisah, dan dekoratif yang berfungsi sebagai ornamen. Relief ini tidak hanya memiliki nilai seni tinggi tetapi juga menyimpan pesan moral dan filosofis yang relevan hingga kini.

Jenis-jenis Relief Candi Borobudur:
Relief Naratif: Menceritakan kisah-kisah dalam agama Budha, seperti kehidupan Sang Budha (Lalitavistara, Jataka, Avadana, Gandawyuha) dan hukum sebab akibat (Karmawibhangga).

Relief Dekoratif: Berupa ornamen dan hiasan yang memperindah candi, seperti sulur-suluran, geometris, dan motif lainnya.

Itulah catatan singkat mengenai sejarah Borobudur dan koleksi reliefnya yang bisa Anda nikmati saat berkunjung ke Candi Borobudur. Berikut ini merupakan relief cerita tentang Jataka dan Awadana.

Jataka Avadana

Jataka dan Avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa perbedaan yang nyata pada relief-relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem pergantian tertentu yang terbukti. Relief-relief cerita Jataka dan Awadana di dinding Borobudur berderet dari sisi timur dan terdapat pada deretan panil relief di pagar langkan rangkaian atas, tersusun secara indah dengan pahatan yang halus dan mempunyai nilai estetika seni rupa yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di dinding utama galeri pertama yang menggambarkan tentang perjalanan Sudhanakumaravadana atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah 135 panil relief bagian dinding atas pertama di galeri yang sama di pagar langkan dikhususkan untuk 34 legenda cerita Jatakamala. Sedangkan sisanya 237 panel relief menggambarkan tentang cerita-cerita dari sumber yang lainnya, seperti halnya seri dan panel relief yang lebih rendah atau bagian bawah di galeri kedua.

Deretan relief di dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka dimasukkan melalui variasi. Sistem di baris atas rangkaian pagar langkan sangat berbeda. Reliefnya hampir semua cerita Jataka, dengan hanya beberapa cerita Avadana.

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Relif-relif cerita Jataka dan Awadana di Candi Borobudur berderet dari sisi timur dan berada pada tingkat I pada deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas, tersusun dengan indah dengan pahatan yang halus dengan nilai estetika seni rupa kebudayaan Borobudur yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di galeri pertama di dinding yang menggambarkan tentang Sudhanakumaravadana, atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah relif 135 panil atas pertama di galeri yang sama di langkan dikhususkan untuk 34 legenda Jatakamala. Sisanya 237 panel menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti halnya seri dan panel yang lebih rendah di galeri kedua. Beberapa jataka digambarkan dua kali, misalnya kisah Raja Sibhi (nenek moyang Rama).

Jataka

Cerita Jataka di candi Borobudur merupakan cerita tentang Sang Budha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha, yang berada pada deretan dinding lorong yang berisi tentang kisah-kisah yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya Sang Budha, baik dalam bentuk manusia maupun hewan. Budha masa depan mungkin muncul di dalam diri mereka sebagai raja, orang buangan, dewa, atau dalam bentuk satwa gajah, akan tetapi dalam bentuk apa pun, ia menunjukkan beberapa kebajikan yang diceritakan oleh kisah tersebut.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Beberapa kisah Jataka di candi Borobudur yang dapat dilihat pada dinding pagar langkan sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Ketika Bodhisatwa lahir sebagai Kura-Kura raksasa
Contoh pengorbanan diri yang mencolok ditunjukkan oleh Bodhisattva ketika ia dilahirkan sebagai kura-kura raksasa.

Suatu hari lima ratus pedagang karam, dan berjuang mati-matian melawan ombak. Sang Bodhisattva muncul, membawa kelima ratus orang itu di punggungnya, dan membawa mereka dengan selamat ke pantai.

Kura-kura itu kelelahan, dan tertidur. Para pedagang, yang tersiksa oleh kelaparan, memutuskan untuk membunuh kura-kura tersebut dan memakan dagingnya. Bodhisattva bangun, dan ketika dia mengerti apa yang sedang terjadi, dia merasa kasihan pada para pedagang yang kelaparan. Dia menawari mereka tubuhnya untuk dimakan, dan dengan demikian orang-orang yang tidak beruntung diselamatkan.

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan
Relief ini terletak pada dinding di sisi sebelah selatan pada pagar langkan rangkaian atas dinding Borobudur.

Satu keluarga burung Puyuh hidup bersarang di hutan. Seekor anaknya ada yang tidak mau makan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Akhirnya ia terlihat tidak tumbuh dengan baik. Ia tidak bisa terbang karena tidak memiliki bulu di sayapnya.

Tanpa di ketahui sebabnya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua binatang yang berada di hutan kebingungan dan ketakutan berusaha mencari perlindungan. Binatang-binatang itu heran melihat seekor burung yang lemah, tidak memiliki bulu sehingga tidak bisa terbang, tetap tenang di sarangnya dan api terlihat tidak bisa membakarnya.

Berkat sikap dan perilakunya yang tidak mau makan sesama makhluk hidup serta selalu berbuat baik, maka doanya agar selamat dari api telah dikabulkan oleh dewa. Meskipun tidak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api memang padam didekat sarangnya.

Kisah Bodhisattva terlahir sebagai Kelinci

Menyebutkan Bodhisattva pernah terlahir sebagai seekor Kelinci. Teman-teman terdekatnya adalah seekor Berang-berang, Serigala, dan Monyet. Pada suatu hari ingin menguji Kelinci, Dewa Sakra muncul di hutan dalam wujud seorang Brahmana yang tersesat dan kelaparan.

Keempat sahabat itu bergegas menemui Brahmana dan memberikan bantuan. Berang-berang membawa tujuh ekor ikan, Serigala membawa seekor kadal, dan monyet membawa buah-buahan yang matang. Pada saat Kelinci tidak bisa menawarkan apapun. Kemudian Brahmana menyalakan api untuk persembahan, dan segera Kelinci itu melompat ke dalam api tersebut, mempersembahkan dirinya sebagai hewan kurban.

Raja para dewa mengagumi perbuatan suci itu, dan sambil kembali ke wujudnya sendiri, dia memuji Kelinci atas pengorbanan dirinya.

Kisah Burung Pelatuk dan Seekor Singa
Relief ini berada pada sisi sebelah selatan dalam deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas.

Kisah yang menceritakan di dalam sebuah hutan hidup burung yang baik hati. Ia berbulu indah dan tidak mau menyakiti makhluk lainnya. Oleh karena itu ia merasa cukup hanya makan bunga, daun dan buah-buahan.

Pada suatu hari, burung Pelatuk melihat seekor Singa yang kesakitan karena sebatang tulang menyangkut di tenggorokannya. Burung Pelatuk memerintahkan Singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan sebatang kayu yang diletakkan berdiri tegak di antara rahangnya maka mulut Singa dapat terbuka. Burung Pelatuk akhirnya dapat mengeluarkan tulang dari tenggorokan Singa dengan patuknya.

Suatu saat, burung Pelatuk kelaparan dan kebetulan melihat Singa yang dulu pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung Pelatuk memohon kepada Singa agar diberi sedikit daging tetapi Singa tidak memberinya dan bahkan mengusir burung Pelatuk. Burung Pelatuk berlalu pergi meninggalkan Singa tersebut dan tidak menaruh dendam padanya. Meskipun Dewa menyarankan agar burung Pelatuk mematuk mata Singa tersebut agar menjadi buta, tetapi burung Pelatuk tidak mau melakukannya.

Avadana

Awadana merupakan cerita yang pada dasarnya mempunyai persamaan dengan cerita Jataka, akan tetapi yang diceritakan bukan tokoh pelakunya Sang Bodhisattwa. Cerita Avadana yang berhubungan dengan cerita Jataka, yang tokoh utamanya bukan Bodhisattva sendiri, berkisah tentang perbuatan akhlak suci dalam avadana yang dikaitkan dengan orang-orang yang legendaris dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Sejumlah 20 panel relif pertama di seri bawah pada dinding utama galeri pertama merupakan panil cerita yang menggambarkan tentang tokoh yang bernama Sudhanakumaravadana atau Perbuatan Suci dari Pangeran Sudhanakumara, yang berasal dari teks Divyavadana.

Cerita dimulai dengan persaingan dua kerajaan: kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang dilanda kemiskinan. Raja Selatan menyadari bahwa Panchala Utara berutang kemakmuran kepada seorang Naga bernama Janmachitraka, yang bersahabat dengan saingannya, dan memastikan curah hujan teratur.

Dia memutuskan untuk memohon bantuan dari seorang pawang ular yang sakti untuk memindahkan Naga ke Panchala Selatan. Atas jasanya, pemburu dihibur oleh keluarga Naga dan dihadiahi permata yang tak ternilai harganya. Namun, seorang peramal menasihati Halaka untuk mengambil laso yang tidak pernah gagal yang dimiliki oleh para Naga.

Pangeran Sudhanakumara menunjuk seorang brahmana sebagai calon pendeta istananya, yang membuat kesal pendeta tinggi ayahnya, yang melihat masa depannya lenyap menjadi asap. Putra mahkota meminta ibunya untuk menjaga Manohara, dan berbaris keluar.

Tanpa diduga dia menikmati dukungan penuh dari raja Yaksa (setan yang baik hati), yang bergabung dalam ekspedisi dengan pasukannya yang sangat besar. Sementara itu, mimpi raja yang tidak menyenangkan ditafsirkan oleh imam besar yang ganas sebagai hal yang tidak menyenangkan; menurutnya, bahaya itu hanya bisa dihindari dengan mengorbankan seorang Kinnara.

Meski sangat kecewa, raja akhirnya setuju untuk mengorbankan Manohara. Setelah menempuh perjalanan panjang Sudhanakumara sampai di ibu kota kerajaan Kinnara. Raja Druma, ayah Manohara, bersedia menyambut Pangeran Sudhanakumara. Pangeran dengan meyakinkan menunjukkan keunggulannya dalam memanah, dan kemudian menunjukkan cinta sejatinya kepada Manohara dengan memilih istrinya di antara kerumunan Kinnara yang tampak identik dengannya.

Segera setelah dia terserap dalam lukisan dan anotasi, dan masuk ke dalam meditasi. Ia mencapai tingkat Srotapanna yaitu salah satu tingkat kesempurnaan. Saat itu Rudrayana menginginkan seorang pendeta Buddha di istananya, dan Bimbisara mengirim Mahakatyayana ke Roruka. Bimbisara mengutus suster Saila.

Ratu Chandraprabha sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ketika kematiannya semakin dekat, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Memang, setelah kematiannya, dia muncul sebagai dewi, dan membujuk pasangannya untuk mengikuti teladannya.

Sejumlah 135 panil relif pertama di seri atas pada langkan galeri pertama dikhususkan untuk 34 cerita legenda Jatakamala. Deretan 237 panil relif yang tersisa menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti juga seri yang lebih rendah dan yang ada di langkan galeri kedua.

Kisah-kisah ini tidak semuanya jataka, akan tetapi juga mencakup beberapa kisah Avadana. Beberapa Jataka digambarkan dua kali, meski tidak dalam seri yang sama. Kisah Raja Sibhi ditampilkan di dinding utama dan langkan galeri pertama. Jataka tidak disusun secara kronologis dari reinkarnasi Bodhisattva sebagai hewan hingga kelahirannya kembali di surga, begitu pula reliefnya.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan warisan budaya leluhur.

Membaca narasi Candi Borobudur dengan berkunjung dan menjadikan wisata Anda semakin menyenangkan, menjelajahi lebih detail budaya Borobudur dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Chandi Borobudur
Candi Buddha Mahayana, dibangun abad ke-9 pada masa pemerintahan Wangsa Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, perpaduan budaya asli pemujaan leluhur Indonesia dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana. Terdiri atas enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, terdapat stupa terbesar ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Budha bercita-cita.

Comments