Membaca Relief Lalitavistara Tentang Sidharta Gautama
Selamat datang di Borobudur, senang sekali berwisata mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Borobudur telah menjadi bagian dari salah satu situs warisan budaya dunia sejak tahun 1991. Keramahan para pemandu wisata, pada kesempatan menarik ini akan memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur sebagai apresiasi untuk mengkaji dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa kebudayaan leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali untuk pariwisata menjadi kesempatan yang menarik untuk mempelajari narasi ini dalam wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dan ikut serta dalam mengenal, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur, yang ada di Indonesia.
![]() |
Galeri relief cerita Keindahan seni ukir salah satu relief dinding cerita Lalitavistara pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto arisguide. |
Salah satu cerita relief di Borobudur yang sangat berarti bagi umat Buddha adalah cerita tentang kehidupan Sidharta Gautama yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.
Relief Lalitavistara
Lalitavistara adalah kisah atau cerita tentang penggambaran sejarah Sidharta Gautama dalam rangkaian relief (namun bukan sejarah/kisah lengkap) di Candi Borobudur. Deretan panel relief yang terpahat pada galeri dinding utama lorong pertama Borobudur merupakan kisah tentang riwayat hidup Sidharta Gautama sebagai Buddha yang diambil dari teks Lalitavistara.
Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, dan setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 panil pigura yang terpahat di dinding tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut lahirnya Sang Buddha di Arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Kapilawastu.
Relief-relief tersebut berjumlah 120 panil pigura, yang berakhir dengan wejangan/khotbah pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, yaitu ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dalam arti yang lain dharma dilambangkan sebagai roda.
Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.
Melalui pintu utama sebelah timur, menaiki tangga lorong pertama pada dinding utama bagian atas, merupakan deretan relif cerita Sidharta Gautama yang berjumlah 120 panil pigura. Membaca relif dengan cara berjalan searah jarum jam atau disebut pradaksina, melalui sisi sebelah kiri cerita dimulai dan berakhir pada dinding di sebelah kanan.
Sebanyak 27 panil pigura merupakan cerita yang menunjukkan berbagai persiapan di langit dan di bumi, untuk menyambut inkarnasi yang terakhir dari Bodhisattva. Cerita kehidupan Sidharta dimulai dengan turunnya Bodhisatwa dari surga Tushita dan diakhiri dengan khotbah atau wejangan pertamanya di Taman Rusa dekat kota Benares. Dipahatkan ukiran relief yang menunjukkan tentang kelahiran Buddha sebagai Pangeran Sidhartha, putra Raja Sudhodana dan Ratu Maya dari Kapilavastu di Nepal.
Disebutkan bahwa sebelum turun dari surga Tushita, diceritakan Bodhisattva mempercayakan dan memberikan mahkotanya kepada calon penggantinya, yaitu Buddha Maitreya di masa yang akan datang. Dia turun ke bumi dalam bentuk penjelmaan gajah putih dengan enam taring, yang kemudian masuk ke rahim kanan Ratu Maya. Ratu Maya memimpikan peristiwa tentang turunnya Bodhisatwa ini, dan mencari jawaban pada suatu ketika menanyakan hal tersebut kepada Brahmana yang ditafsirkan bahwa suatu hari nanti putranya akan menjadi seorang pemimpin atau penguasa dan pada akhirnya menjadi orang suci atau Buddha.
Ketika Ratu Maya merasa bahwa inilah saatnya untuk melahirkan, dengan kereta dia pergi ke taman Lumbini, taman yang berada di luar Kapilavastu. Diceritakan bahwa Ratu Maya berdiri di bawah pohon Plaksa, dengan memegang satu cabang dengan tangan kanannya, dan dia melahirkan seorang putra, dan diberi nama Sidhartha. Kisah ini berlanjut sampai pangeran menjadi seorang Buddha.
Berikut rangkuman cerita singkat dan narasi cerita riwayat hidup Sidharta di dinding utama Chandi Borobudur adalah sebagai berikut:
Lalitawistara
Awal Kelahiran Terakhir Buddha
Panel relief dinding utama lorong pertama bagian atas, diceritakan dalam suatu ketika pada saat para Dewa-dewa yang berada di surga Tusita telah memberikan ijin dengan mengabulkan permohonan bagi Bodhisatwa untuk turun ke dunia dan akan lahir kembali menjadi seorang Buddha, dengan tujuan untuk memberikan bimbingan kepada manusia dan mengembalikan ke jalan yang benar. Dengan menjelma dalam bentuk sebagai manusia bernama Sidharta Gautama.
Didalam istana kerajaan Kapilawastu Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang dalam percakapan yang mendalam berharap tentang keinginan untuk mendapatkan dan mempunyai seorang putra. Keinginan itu, adalah agar kelak ada pengganti sebagai seorang raja di Kapilavastu, hal tersebut mendorong keduanya bermeditasi, untuk mendapatkan keturunan.
Dalam suatu waktu disebutkan, didalam istana kerajaan, Dewi Maya permaisuri Sudhodana, Raja dari Kapilavastu mendapatkan sesuatu tentang bermimpi melihat seekor gajah putih dengan bentuk bertaring enam, kemudian masuk menyusup ke tubuhnya. Gajah putih di dalam mimpi itu turun dari surga Tusita dengan mengendarai bunga teratai yang tak lain adalah Bodhisatwa sendiri. Bersamaan dengan kejadian itu dewa-dewa menyampaikan rasa hormat yang dalam dengan menyembahnya.
Kemudian dengan kejadian datangnya suatu mimpi yang belum dapat diterjemahkan, dan telah menimbulkan keinginan Dewi Maya untuk menceritakan mimpinya kepada Raja Sudhodana, dikarenakan tidak tahu apa arti dari mimpi tersebut. Demikian halnya yang dirasakan oleh Raja Sudhodana, setelah berpikir dan merenungkan mimpi tersebut, pada akhirnya diputuskan untuk mencari dan menanyakan arti mimpi itu kepada orang yang bijak, orang yang berilmu damai hati yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.
Dijelaskan pada kesempatan tersebut Asita meramalkan bahwa Dewi Maya, kelak akan mendapatkan anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Didalam hati Dewi Maya sangat gembira tetapi keinginan agar kelak putranya menjadi seorang yang bijak, sebagai Budha belum didapatkan. Akan sangat berbeda penjelasan Brahma yang membuat perasaan hati Raja Sudhodana merasa sangat gembira, karena untuk waktu yang cukup lama sebenarnya Raja Sudhodana mendambakan seorang putra, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan yaitu raja selanjutnya. Hal yang menggembirakan disambut dengan suka cita bagi Raja Sudhodana dan kemudian dilaksanakan dengan berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas peristiwa ini, para Dewa menawarkan surga kepada Dewi Maya.
Dalam perjalanan mengandung putra raja, dalam kehidupan di istana banyak keajaiban datang. Oleh para Dewa, Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus, untuk menggambarkan ajaran Trikaya, yaitu: Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya. Sebelum waktu akan datangnya kelahiran Buddha, di dalam istana Dewi Maya mampu melakukan berbagai keajaiban, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang disekitar istana yaitu di antaranya mampu mengobati orang sakit dan orang cacat. Suatu keajaiban juga terjadi di dalam istana, ketika pada saat singa dan gajah yang berada di luar istana menyembah Raja Sudhodana.
Ketika menjelang kelahiran, persiapan di dalam istana dimana Dewi Maya menuju dengan melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisatwa. Dewi Maya memberikan kelahiran dengan posisi berdiri dan memegang dahan pohon yang berada di Taman Lumbini. Pada saat Bodhisatwa lahir, terdapat dua arus air yang turun dari langit, arus air yang satu dingin dan arus air lainnya hangat. Arus tersebut kemudian mengguyur membasahi tubuh Sidharta. Pada saat itu dalam keadaan Sidharta lahir bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung melangkah ke arah utara. Tempat dimana dirinya berdiri, ditumbuhi bunga teratai. Seminggu setelah kelahiran tersebut, diceritakan permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.
Masa Kecil dan Remaja Pangeran Sidharta
Asita meramalkan lagi bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Buddha. Dengan ramalan tersebut membuat pikiran raja Sudhodana menjadi cemas. Kekhawatirannya karena jika Siddharta tumbuh besar akan menjadi budha, maka kerajaan Kapilavastu tidak mempunyai raja dan tidak ada yang mewarisi. Oleh sebab itu para pertapa menyarankan, kepada raja Sudhodana agar pangeran Sidharta dijauhkan dari empat peristiwa tentang kehidupan. Bila tidak, kehidupan yang dijalani membuat dia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha.
Dari masa kecil pangeran sudah menunjukkan hal yang berbeda dengan anak yang lain yaitu tumbuh sebagai anak yang cerdas dan pandai. Pada saat mencapai usia tujuh tahun, pangeran tertarik untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan. Diceritakan, bahwa wajah pangeran dipenuhi dengan sinar terang, sehingga pada saat pertama kali masuk sekolah membuat sang guru pingsan, karena melihat wajah pangeran yang bersinar.
Di usia 16 tahun, tibalah bagi Sidharta untuk mendapatkan jodoh, dengan memberikan cincin dan menikah dengan Puteri Yasodhara, yang dipersunting setelah Sidharta memenangkan beberapa sayembara. Kemudian Sang pangeran mendapatkan kehormatan diberi tiga buah istana yang khusus, yaitu: Istana musim dingin (Ramma), Istanaj musim panas (Suramma) dan Istana musim hujan (Subha). Hal ini dilakukan ayahnya, Sudhodana berhubungan dengan perkataan saran pertapa agar anaknya itu tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa tentang kehidupan.
Empat Pertemuan dan Pelepasan Agung Sidharta
Setelah beberapa saat lamanya, kehidupan Sidharta sebagai Pangeran anak raja, hidup di tiga istana yang megah dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Sidharta banyak mendapatkan segala keingian terpenuhi seperti makanan, minuman, pakaian, pelayan yang setia dan selalu di jaga oleh pengawal kerajaan, tidaklah membuat kehidupannya lebih baik dikarenakan perasaan bosan selalu berada di istana. Oleh sebab itu terbersik dipikirannya untuk bisa melihat keadaan di luar istana. Suatu hari Bodhisatwa mempunyai keinginan untuk melihat keluar istana, sehingga meminta izin untuk berjalan di luar istana.
Di luar istana kehidupan sangat berbeda, dengan beberapa pengawal kerajaan dimana pada kesempatan ditemui diluar istana tersebut, dilihatnya empat kondisi kehidupan yang sangat berarti dan nyata, yaitu: Orang tua, Orang sakit, Orang mati dan Orang suci. Melihat hal tersebut, tersirat dalam pikirannya didalam hati bahwa sebenarnya perasaan Sidharta sangat bersedih. Sesaat dalam perenungan keinginan untuk mengetahui membuatnya menanyakan pada dirinya sendiri tentang apa arti kehidupan ini. Dirinya berpikir, bahwa pertemuan dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab sebenarnya apa arti hidup.
Didalam kehidupannya, pemikiran dan perenungan tentang empat kehidupan yang dilihatnya mengantarkan pada kehidupannya selama 10 tahun bahwa dirinya telah hidup dalam duniawi. Pergolakkan hati yang dialami Sidharta berjalan terus pada suatu ketika hingga berusia 29 tahun, tepat bersamaan dengan anak pertamanya lahir. Pada suatu malam, keinginannya untuk keluar dari istana mendapatkan kesempatan dirinya, Bodhisatwa memutuskan untuk keluar meninggalkan istana. Pengawal pembawa kuda mengantarkan dirinya membantu Sidharta, dirinya akan bertekad bulat untuk mencari dan melakukan pelepasan yang agung dan hidup sebagai seorang pertapa.
Dalam pencariannya sebagai pertapa, Sidharta mendapat kesempatan untuk berguru pada Alara Kalama. Tidaklah lama, karena merasa bahwa selama berguru, semua yang telah dilakukan dan dipelajari itu sia-sia, maka dirinya memantapkan diri untuk melakukan meditasi pertapaan dengan ditemani oleh lima orang muridnya. Selama pertapaannya, hal ini banyak perubahan dengan tubuhnya, membuat badannya menjadi kurus hingga tulang, sampai tidak kuat menopang tubuh Bodhisatwa.
Diceritakan pada suatu ketika datanglah seorang perempuan yang bernama Sujana, dengan memberikan semangkuk bubur susu kepada pertapa Sidharta. Agar tubuhnya kembali segar. Beberapa saat kekhawatiran muncul dari Dewi Maya, karena tidak tega melihat penderitaannya, ibunya Dewi Maya turun dari surga ke bumi untuk mengakhiri pertapannya. Dengan memberikan makanan kepada Sidharta melalui pori-pori kulitnya untuk mengembalikan kesehatan tubuhnya. Siddharta saat itu mengakhiri pertapaannya dan kemudian menuju ke sungai Nairanjana untuk mandi. Dalam kesempatan yang baik itu Sidharta bertekad untuk mencapai pencerahan dan Pemutaran Roda Dharma Perdana Buddha.
Bodhisatwa dalam keadaan merasa tubuhnya sangat lemas dan maut hampir merenggut jiwanya. Namun, karena dengan keinginan dan tekad yang sekuat baja akhirnya Bodhisatwa melajutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.
Diceritakan juga dengan berbagai tipu daya, yaitu bagaimana upaya Dewi Mara untuk dapat menghentikan dan menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala daya upaya Bodhisatwa, datanglah keajaiban dan semua mara bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya, dapat disingkirkan dengan mengubah setiap godaan menjadi bunga. Dan saat itu, tibalah saatnya bagi Bodhisatwa untuk mencapai pencerahan sempurna. Bodhisatwa akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang membimbing keselamatan terakhir dan telah menjadi Buddha tepat saat bulan purnama tahun 531 SM Hari ke delapan bulan ke 12.
Pada saat mencapai pencerahan sempurna, terlihat dalam tubuhnya memancarkan sinar. Sinar yang berwarna biru mempunyai arti bakti, warna kuning artinya tentang kebijaksanaan dan pengetahuan, warna merah yang artinya kasih sayang dan belas kasih, sedangkan putih itu berarti suci.
Setelah Bodhisatwa menerima pencerahan yang sempurna, dengan santun Bodhisatwa menemui kelima temannya yang dahulu pernah menemaninya dan mengangkat mereka menjadi murid-murid pertamanya. Dan diceritakan pada kesempatan yang berbahagia, kelima murid itulah yang untuk pertama kalinya mendengarkan khotbah atau wejangan Buddha, yaitu ajaran penyelamatan.
Narasi galeri relief cerita dinding Borobudur dapat dilihat di bawah ini adalah sebagai berikut;
Lalitavistara
(Kehidupan Sang Buddha)
Dinding Timur (Tengah ke Selatan)
Pendahuluan Kelahiran Buddha
1. Bodhisattva di Surga Tusita di antara para Dewa.
2. Pengumuman Bodhisattva bahwa ia akan terlahir kembali di bumi.
3. Para Dewa berwujud Brahmana di bumi.
4. Para Buddha Pratyeka meninggalkan bumi sekarang karena Bodhisattva akan Lahir.
5. Petunjuk Bodhisattva kepada para Dewa.
6. Menyerahkan mahkota kepada Maitreya.
7. Memilih inkarnasi.
8. Raja Suddhadana dan Ratu Maya.
9. Para dewi mengunjungi Ratu Maya yang telah bersumpah untuk membujang.
10. Para Dewa mendiskusikan siapa yang harus mendampingi Bodhisattva.
11. Para Dewa memuja Bodhisattva.
12. Bodhisattva turun ke bumi ditemani para Dewa.
13. Bodhisattva memasuki rahim Ratu Maya.
14. Bodhisattva di dalam rahim Ratu Maya.
15. Ratu ingin bertemu Raja Suddhodana di Taman Asoka.
Dinding Selatan
Kelahiran dan Kehidupan Awal Buddha
16. Raja pergi menemui Ratu.
17. Ratu menceritakan mimpinya.
18. Para Brahmana menafsirkan mimpi Ratu.
19. Para Brahmana menerima hadiah.
20. Para Dewa mempersiapkan Ratu Maya.
21. Ratu Maya di lebih dari satu istana.
22. Ratu Maya menyembuhkan orang sakit.
23. Suku Sakya memberikan hadiah kepada fakir miskin.
24. Wacana Raja tentang Kewajiban Perempuan.
25. Pertanda sebelum kelahiran Bodhisattva.
26. Masa Ratu Maya semakin dekat.
27. Ratu Maya melakukan perjalanan ke Lumbini.
28. Ratu Maya melahirkan.
29. Raja menamai putranya Siddhartha.
30. Gautami menjaga Siddhartha.
31. Asita meramalkan Siddhartha akan menjadi Buddha.
32. Para Dewa memuja Siddhartha.
33. Raja diminta untuk membawa Siddhartha ke Kuil.
34. Prosesi menuju Bait Suci.
35. Patung-patung itu memuja Siddhartha.
36. Para bangsawan mempersembahkan Perhiasan kepada Siddhartha.
37. Siddhartha pergi ke sekolah.
38. Siddhartha belajar di kelas.
39. Siddhartha di desa-desa.
40. Siddhartha Bermeditasi di bawah Pohon Jambu.
41. Keluarga memutuskan untuk meminta Siddhartha menikah.
42. Mempersembahkan Cincin kepada Gopa.
43. Siddhartha menyetujui sebuah kontes.
44. Devadatta memukuli seekor Gajah sampai mati.
45. Siddhartha menyingkirkan Gajah.
Dinding Barat
Pernikahan dan Pelepasan Keduniawian Buddha
46. Siddhartha menang di Matematika.
47. Siddhartha memenangkan sebuah kompetisi.
48. Siddhartha memenangkan kompetisi lainnya.
49. Siddhartha memenangkan kompetisi Panahan.
50. Gopa setuju untuk menikahi Siddhartha.
51. Siddhartha dan Gopa di Istana.
52. Para Dewa mengucapkan selamat kepada Siddhartha.
53. Para Dewa mengingatkan Siddhartha akan Tugasnya.
54. Siddhartha dihadirkan dengan Tiga Istana.
55. Siddhartha berbicara di Istana.
56. Siddhartha melihat Orang Tua.
57. Siddhartha bertemu dengan Orang Sakit.
58. Siddhartha melihat seseorang yang telah meninggal.
59. Siddhartha bertemu dengan seorang Bhikkhu.
60. Gopa menceritakan mimpi buruknya kepada Siddhartha.
61. Raja Suddhodana memberikan izin kepada Siddhartha untuk meninggalkan Istana.
62. Gautami membawakan wanita cantik untuk Siddhartha.
63. Siddhartha terkejut dengan Wanita Tidur.
64. Siddhartha meninggalkan Istana, Chanda.
65. Para Dewa berpamitan dengan Siddhartha.
66. Siddhartha memulai Perjalanan panjangnya menuju Pengasingan dengan menunggang kuda Kanthaka.
67. Siddhartha memotong rambutnya.
68. Siddhartha mengganti Pakaiannya.
69. Para Dewa menghormati Bodhisattva.
70. Bodhisattva berkelana dan datang ke Pertapaan Padmapani.
71. Bodhisattva bertemu dengan Arada Kalama.
72. Arada Kalama menawarkan Kepemimpinan Bersama Bodhisattva.
73. Raja Bimbisara mempersembahkan makanan kepada Bodhisattva.
74. Raja Bimbisara memuja Bodhisattva.
75. Bodhisattva bertemu dengan Rudraka Ramaputra.
Dinding Utara
Kebangkitan Sang Buddha
76. Bodhisattva memulai Meditasi di Gua bersama Kelompok Lima.
77. Bodhisattva pada masa Kehidupan Pertapaannya.
78. Ibunya mencoba membujuk Bodhisattva untuk menyerah.
79. Mara mencoba membujuk Bodhisattva untuk menyerah.
80. Para Dewa menawarkan untuk memberikan makanan kepada Bodhisattva.
81. Putri Kepala Desa mempersembahkan Makanan kepada Bodhisattva.
82. Bodhisattva Mandi dan Mengganti Pakaiannya dengan mengenakan Kain Kafan Radha.
83. Para Dewa mempersembahkan Pakaian Bersih kepada Bodhisattva.
84. Sujata mempersembahkan makanan kepada Bodhisattva di Rumahnya.
85. Bodhisattva mengambil mangkuk dan pergi ke sungai untuk mandi.86. Para Dewa membantu Bodhisattva saat ia Mandi dan mengumpulkan Relik.
87. Seorang Nagi menawarkan Singgasana untuk diduduki Bodhisattva.
88. Bodhisattva memakan sisa Makanannya.
89. Bodhisattva yang membuang Mangkuk.
90. Svastika memberikan rumput kepada Bodhisattva untuk diduduki.
91. Brahma dan para Dewa lainnya memuja Bodhisattva.
92. Para Dewa menghiasi Pohon Bodhi, berharap Bodhisattva akan duduk di sana.
93. Para Bodhisattva memberi penghormatan kepada Bodhisattva.
94. Mara mengirimkan putrinya untuk memikat Bodhisattva.
95. Mara dan Pasukannya menyerang Bodhisattva.
96. Bodhisattva mencapai Kebangkitan dan menjadi Buddha.
97. Buddha lain mengirim payung untuk menaungi Buddha baru.
98. Para Dewa memandikan Sang Buddha.
99. Sang Buddha menunjukkan Abhaya Mudra.
100. Sang Buddha di Sekitar Pohon Bodhi.
101. Sang Buddha bertemu Mucilinda.
102. Sang Buddha bertemu dengan para Petapa di Sekitarnya.
103. Sang Buddha bertemu Trapussa dan Bhallika.
104. Para Dewa mempersembahkan kepada Buddha empat mangkuk.
105. Sujata mempersembahkan Makanan kepada Sang Buddha.
Dinding Timur (Utara ke Tengah)
Khotbah Pertama
106. Para Dewa meminta Sang Buddha untuk Mengajar.
107. Sang Buddha setuju untuk Mengajar.
108. Para Dewa mempersiapkan Jalan menuju Rsipatana.
109. Sang Buddha dalam Perjalanan Menuju Rsipatana.
110. Sang Buddha bertemu dengan beberapa orang di Jalan.
111. Sang Buddha dihibur oleh Cunda.
112. Sang Buddha dihibur oleh Kamandaluka.
113. Sang Buddha dihibur oleh Kandha.
114. Sang Buddha dihibur oleh para perumah tangga.
115. Sang Buddha melintasi Sungai Gangga dengan terbang melintasi Udara.
116. Sang Buddha dipersembahkan Dana.
117. Sang Buddha bertemu dengan Kelompok Lima yang Baik.
118. Sang Buddha mengajarkan Dhamma.
119. Orang-orang membawakan hadiah kepada Sang Buddha.
120. Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para Dewa dan Manusia.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.



Comments
Post a Comment